Kesan Pertama Nonton anime Gleipnir: Review Episode 1-3

  • Share

Aneh, mesum, namun seru. Sepertinya itulah yang terpintas dipikiran selagi menonton tiga episode pertama anime Gleipnir. Tidak hanya punya power system yang aneh, anime ini juga penuh kemesuman yang disajikan dengan erotis.

Namun, sebagai penonton anime yang tidak terlalu suka dengan genre ecchi, bagi saya Gleipnir tetap asik ditonton karena ceritanya menarik, temponya tidak lambat, dan tentu saja adegan aksinya cukup keren.

Disclaimer: saya belum pernah baca manganya, jadi harap maklum dengan review ini, ya.

Sinopsis anime Gleipnir

Shuichi, anak SMA yang pintar namun tidak punya ambisi. Ia menolak kesempatan masuk universitas jalur prestasi karena hendak hidup yang biasa-biasa saja. Namun, di balik itu, Shuichi punya rahasia. Ia mampu berubah menjadi monster maskot anjing namun tidak tahu apa penyebabnya.

review anime gleipnir
Via Pine Jam

Hingga suatu hari ia bertemu Claire yang ia selamatkan. Claire berlanjut mengajak Shuichi menguak misteri monster itu sambil memanfaatkan Shuichi bakal mencari kakaknya.

Opening dan ending theme yang bagus

Lagu openingnya berjudul “Altern-ate-“dan dinyanyikan oleh H-el-ical (susah bacanya). Ini boleh jadi salah satu lagu opening terbaik di season ini. Intronya mampu menunjukkan nuansa gelap animenya juga cocok membangun mood sebelum nonton.

Sedangkan lagu endingnya cukup bagus. Sukses berikan after taste berbeda sesuai cerita dan tema yang diangkat tiap episodenya. Lagunya berjudul Ame to Taiki to Nioi oleh Mili.

Jenis kekuatan yang unik

Mari kita bahas power system atau jenis kekuatan yang ada di anime ini.

Jepang punya obsesi dengan perubahan. Banyak cerita fiksi berpusat pada tokoh utama yang mampu berubah. Ada yg berubah jadi raksasa ber-spandex perak, pasukan warna warni, hingga kesatria berkostum serangga yang keren.

Namun anime Gleipnir agak beda. Tokoh utamanya mampu berubah menjadi maskot anjing. Iya maskot anjing.

Shuichi mampu berubah jadi maskot anjing yang fluffy, lucu, dan menggemaskan.

Namun jangan salah, maskot lucu ini yakni monster yang kuat dan lincah. Dapat meloncat tinggi dan terjun dari ketinggian tanpa cedera. Dan sebagai monster, tubuhnya juga terbuat dari daging, bukan kain seperti maskot.

kesan pertama nonton anime gleipnir
Via Pine Jam

Kekuatan mampu berubah menjadi monster ini sepertinya memiliki hubungan dengan koin misterius yang dicari oleh orang asing yang juga misterius.

Koin bergambar bintang ini juga diincar oleh manusia yang memiliki kekuatan monster. Entah apa gunanya, di tiga episode pertama belum terlalu jelas disebutkan.

Erotis

Nah, mari kita bahas bagian mesumnya yang telah kamu tunggu-tunggu.

Sebenarnya anime ini tidak terlalu mesum bila dibandingkan dengan anime-anime genre ecchi. Namun, banyak juga adegan yang gambarnya fokus pada lekuk tubuh wanita. Bahkan kadang adegan buka baju pun di-shoot dengan “minat” sekali.

Terus, yang paling kentara yakni adegan erotis antara Shuichi dan Claire.

Tubuh monster Shuichi punya resleting di punggungnya. Kalau dibuka, ada lubang seukuran tubuh manusia yang anehnya tidak berisi satu pun organ tubuh Shuichi. Lubang itu kosong dan hanya dibatasi oleh dinding daging yang lunak dan bercairan lengket.

Claire mendapatkan ide bakal masuk ke dalam lobang itu mengendalikan pergerakan Shuichi dari dalam. Nah, adegan masuk lobang inilah yang disajikan dengan sungguh erotis.

Tengah Claire masuk ke lubang berdinding daging lunak dan lengket itu, Shuichi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Wajah merahnya menunjukkan ia menyukainya.

Claire berlanjut menyesuaikan tubuhnya dengan tubuh monster Shuichi. Memasukkan tangan dan kakinya ke dalam lobang-lobang yang ada. Terus, dialog yang biasa kita temukan di anime-anime echhi bahkan hentai pun keluar, seperti “Aku masuk ya?” “Kalau aku bergerak seperti ini apakah sakit?”

Ya, mampu dibilang adegan pertama kalinya Claire masuk ke dalam tubuh monster Shuichi merupakan ilustrasi adegan seks. Hanya saja anime ini menyajikannya dengan halus, tidak vulgar, namun tetap erotis.

Entah apa yang ada dipikiran Sun Takeda (sang mangaka) selagi mengarang adegan ini. Sepertinya ia hendak mengilustrasikan fetish pria yang “dimasuki” wanita.

Hubungan karakter yang agak menjengkelkan

Hubungan Shuichi dan Claire mampu dibilang agak toxic di awal-awal. Shuichi yakni anak yang baik dan sulit bakal menolak permintaaan orang.

Sedangkan Claire kebalikannya. Dalam tiga episode pertama anime Gleipnir, mampu dibilang Claire yakni wanita yang manipulatif.

Hubungan keduanya agak menjengkelkan, harusnya Shuichi berani menolak ajakan dan manipulasi Claire. Namun kalau seperti itu tentu ceritanya jadi kurang seru, bukan?

pemabahasan gleipnir
Via Pine Jam

Dari hubungan Shuichi dan Claire yang agak seksual serta toxic ini, boleh jadi sang mangaka hendak mengilustrasikan bagimana wanita memanipulasi dan mengendalikan pria dengan imbalan “ena-ena.”

Tidak perlu heran, isu ini telah banyak diangkat dalam cerita fiksi.

Adegan aksi yang bagus

Di episode 2, anime Gleipnir seperti memberikan sebuah persembahan pada anime Netflix berjudul Devilman Crybaby. Ada seorang gadis pelari yang hendak mendapatkan kekuatan biar mampu lari lebih cepat.

Adegan aksi selagi si gadis berlari dengan kekuatan barunya mengingatkan pada Devilman Crybaby. Ditambah pula dengan iringan musik elektronik di latarnya.

Terus, adegan aksi pertarungan di episode 2 juga sungguh menarik. Animasi pertarungan Shuichi melawan monster lain berlangsung lincah dengan pukulan-pukulan yang terasa padat. Cukup bakal menghibur para pencinta pertarungan dalam anime.

Kesimpulan

Jadi, dari tiga episode pertama anime Gleipnir, disimpulkan kalau ceritanya cukup menarik dan membuat penasaran. Terutama perihal asal muasal jenis kekuatannya.

Anime ini mesum dan erotis. Sepertinya akan sedikit mengganggu bagi yang kurang suka dengan ecchi. Namun hal ini mampu ditutupi oleh adegan aksi dan ceritanya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *