Review Film Invisible Man (2020): Adaptasi Ulang yang Masih Kurang Greget

  • Share

Adaptasi ulang dari novel lawas ciptaan H.G Wells kali ini hanya mempunyai sedikit kemiripan dengan bukunya. Memakai plot yang lebih modern, sang penulis dan juga direktur, Leigh Whannell, tampaknya berharap menyajikan sesuatu yang lebih mengena dengan penonton abad ke-21. Hanya saja alur yang terasa terburu-buru dan lubang-lubang di plotnya akan membuat penonton yang kritis kurang dapat bakal ikut menyelam dan menikmati film Invisible Man.

Sinopsis singkat film Invisible Man

Film dibuka dengan penceritaan detail pelarian diri Cecilia yang dierankan Elisabeth Moss (Us) dari pasangannya Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) seorang jenius di bidang optik. Adegan langsung melompat ke dua minggu berikutnya: Cecilia yang masih trauma berat sekarang tinggal di rumah James (Aldis Hodge) teman lamanya yang merupakan seorang polisi dan orang tua tunggal dari seorang remaja putri bernama Sidney (Storm Reid). Tak lama, kakaknya, Harriet Dyer, yang ia larang bakal berkunjung datang membawa kabar bahwa Adrian telah meninggal.

Seusai mendapatkan sedikit bukti bahwa Adrian memang meninggal dan menerima warisan yang cukup besar, Cecilia tampak lebih dapat menikmati hidup. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Cecilia merasa dirinya terus terus diawasi. Akhirnya dengan satu bukti nyata, dia merasa yakin Adrian masih hidup dan menghantuinya. Namun di ketika yang sama ia gagal meyakinkan orang sekitarnya dan dianggap paranoid.

Antagonis yang tidak tampak

Seperti dapat diduga, antagonis di film Invisible Man merupakan seorang “pria tak kasat mata” yang kelihatannya merupakan Adrian. Hanya saja seperti wujudnya, karakternya tidak diperlihatkan dengan baik. Sifat kasarnya hanya ditunjukkan sekali di awal film, sementara sifat-sifat lainnya hanya dituturkan oleh Cecilia atau adiknya Tom, Michael Dorman. Ini membuat penonton tidak dapat yakin bahwa Adrian merupakan seorang jenius sadis seperti Hannibal Lecter. Efeknya merupakan derajat kengerian film ini menurun drastis.

Plot dengan banyak sticky notes

Leigh Whannell tampak memfilmkan sebuah draft skrip dengan catatan-catatan sticky notes ditempelkan di banyak halamannya dan bukan sebuah skrip dengan cerita yang matang dan final. Contoh mudahnya saja: tampaknya tidak masuk akal apabila seorang jenius sadis meninggalkan laboratoriumnya dapat diakses dengan mudah sementara dia dapat memalsukan kematian dirinya dengan sempurna; atau Cecilia yang tiba-tiba sadar cara jitu memancing si antagonis, dengan menjadikan dirinya sendiri umpan, namun beberapa ketika kemudian seakan tidak ingat cara ampuh itu.

Masih banyak lagi lubang atau detail kecil janggal di film ini yang akhirnya membuat film ini kurang dapat dinikmati secara keseluruhannya.

Namun jangan salah, walau (sepertinya) akan kurang menarik bagi penonton yang tidak suka dengan plot hole, untungnya performa Elisabeth Moss cukup baik di sini. Ia berhasil mempertontonkan Cecilia sebagai manusia rapuh dengan gangguan mental paranoid hasil manipulasi terus-menerus pasangannya. Ia mendominasi dan berhasil membuat film Invisible Man tidak membosankan.

Rating: 6.5

Genre: Horor, Fiksi Ilmiah

Sutradara: Leigh Whannell

Bintang: Elisabeth Moss, Oliver Jackson-Cohen, Aldis Hodge, Harriet Dyer

Review Overview

6.5/10

Summary

Adaptasi ulang novel klasik dengan plot yang lebih modern. Hanya saja plot tampak kurang matang dan karakter antagonis yang kurang nyata membuat film ini kurang greget bakal dinikmati.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *