Indie Vibe: Invisible Beach dan Dream Pop Khas Jan Flu

  • Share

Ayo berkenalan dengan Jan Flu, band indie asal Jepang yang nyentrik. Tidak tahu pasti apa arti dari nama band ini. Kalau diartikan dari bahasa inggris, kata ‘Jan’ sanggup diartikan sebagai singkatan dari bulan Januari. Jadi kalau digabungkan sanggup berarti ‘flu di bulan Januari’.

Namun, selagi ditelusuri lebih jauh lagi, ternyata dalam Urban Dictionary, Jan berarti a true friend, orang yang pintar dan baik. Sedangkan menurut bahasa Persia, Jan berarti kehidupan atau jiwa dan biasa digunakan bakal panggilan sayang. Jadi bakal arti nama band ini kita hanya sanggup menduga-duga dikarenakan masih sedikitnya sumber perihal band ini. Huhu.

Album After Image dari Jan Flu via Twitter

After Image Release Party oleh Jan Flu

Via situs www.bandcamp.com, Jan Flu dideskripsikan sebagai proyek dari P.Necobayashi, salah satu personilnya. Band ini sendiri terdiri dari empat orang personil ialah vokal dan gitar oleh P.Necobayashi, gitar oleh Kubo, Bass oleh Junya dan Drum oleh Takuro. Jan Flu akan merilis albumnya dengan tajuk “After Image” pada tanggal 14 Juli mendatang dengan mempersembahkan 14 deretan lagu. Judul lagu mereka seluruhnya ditulis dalam bahasa inggris. Diantaranya ialah : Endings; Invisible beach and the skying; Into youth; Red smoke; dan Serenity.

Personil Jan Flu via Twitter

Personil Jan Flu via Twitter

Mengusung genre dream pop, musik mereka tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu dream pop pada umumnya. Bagi pecinta musik dream pop pasti telah tidak asing lagi dengan hentakan drum di awal lagu atau alur alunan gitar yang “krispi” dan konstan. Musik yang mampu memenuhi telinga kita dengan ciri khas vokal yang berat dan minimalis, bertolak belakang dengan tajamnya suara gitar. Salah satu lagu mereka yang berjudul invisible beach and the skying sebagai contoh, sanggup membuat tubuh kamu ikut bergoyang mengikuti alunan gitarnya.

Pada tanggal 26 Juni kemarin, Jan Flu baru saja merilis video klip dari salah satu lagu mereka yang berjudul Invisible beach, and the skying. Pertama kali saya melihat video ini saya langsung teringat video klip dari band indie elektro-pop asal Kanada, Men I Trust yang berjudul Tailwhip karna teknik jukstaposisinya. Teknik jukstaposisi ialah teknik penempatan dua objek secara berdampingan. Video klip invisible beach and the skying ini memang terlihat rumit dan membingungkan.

Dengan nuansa pantai di musim panas berdempet dengan kehebohan keempat personilnya yang menari dan bermain, membuat kita bertanya apa sebenarnya yang hendak mereka sampaikan lewat video klip ini.

Video ini sepertinya direkam dengan handycam sebagai salah satu ciri khas beberapa video musik dream pop, sebut saja Men I Trust yang memasukkan video masa kecilnya, dalam bentuk rekaman handycam, ke dalam video klipnya. Begitu juga dengan Boy Pablo yang terkenal dengan video klipnya yang berjudul Everytime.

Melihat judulnya, Jan Flu seperti hendak menyampaikan bahwa di mana pun mereka berada mereka rajin merindukan pantai, amat beach-y sekali memang. Video klip juga ini seolah memberi cara pandang baru dalam melihat pantai. Pantai tidak melulu digambarkan dengan suasana yang ceria, angin sepoy-sepoy, tubuh setengah telanjang yang berjemur. Namun ia juga sanggup tetap eksotis walau divisualkan dengan cara yang chaos.

Kamu sanggup menonton video klip Invisible beach, and the skying tersebut di bawah ini. Bagaimana menurutmu? Jangan lupa tulis di kolom komentar, ya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *