Review Film Mau Jadi Apa? (2017) – Lucu, Menghibur, namun…

  • Share

Sepertinya seusai Raditya Dika, mulai banyak komika yang terjun ke dunia perfilman dan menjadi aktor maupun sutradara. Seusai koh Ernest menggebrak dunia perfilman Indonesia dengan menyabet piala Citra bakal Naskah Orisinil terbaik dengan Cek Toko Sebelah, lalu ada Kang Soleh Solihun yang memulai debut pertamanya dengan Mau Jadi Apa. Tetapi, ada sedikit kekurangan pada film terbaru akang Soleh.

Mau Jadi Apa amat kental dalam kehidupan Soleh Solihun. Film yang diangkat dari sebuah novel perjalanan hidup komika yang mengawali kariernya dengan menjadi wartawan ini menceritakan kurang lebih perihal kehidupan kampus Kang Soleh. Dimana dia bersama teman masih bingung “mau jadi apa?” seusai tamat dari kampus.

Soleh Solihun

Soleh Solihun via Okezone

Berkuliah di jurusan Ilmu Kominikasi, fakultas dikuasai oleh satu majalah bernama Fakta Jatinangor yang bersifat faktual dan berat. Melihat hal itu, Soleh muda bersama teman-temannya, Lukman, Marsyel, Eko, Fey, dan Syarif membuat majalah kampus alternatif, Karung Goni, kependekan dari “Kabar, Ungkapan, Gossip dan Opini”.

Mulai dari sini, premis yang diberikan amat menarik. Bagaimana beberapa orang mahasiswa yang tidak tahu mau jadi apa mencoba membuat majalah berdasarkan kemampuan mereka. Mulai dari menggambar, pengetahuan perihal musik, serta Fey yang menjadi tempat pelampiasan bakal curhat anak-anak lain.

Dibalut dengan bumbu-bumbu komedi khas komika, Mau Jadi Apa? sukses memberikan hiburan yang ringan, menggelitik, walaupun sedikit “cringy”.

Pemain Mau Jadi Apa

Pewarta Karung Goni via Beritagar

Walaupun begitu, sepertinya Kang Soleh harus sedikit belajar dari Ernest Prakasa yang pernah berpengalaman menulis skenario. Sepertinya dipengaruhi oleh pengalaman pertama, beberapa plot di film ini terkesan “memaksa” bakal memberikan tawa pada penonton. Tawa yang diberikan cukup banyak, namun plot seperti kurang menggigit.

Selain itu, tema “mau jadi apa seusai kuliah?” sepertinya hanya dijadikan bumbu penarik bakal film ini. Saat saya melihat tema tersebut, saya membayangkan adanya pertentangan perihal apa yang pernah saya hadapi selagi memasuki dunia kuliah dengan apa yang akan saya lakukan selagi telah tamat?

Tema tersebut seakan menghilang di pertengahan cerita dimana penonton dibuat fokus dengan perselisihan Karung Goni dengan Fakta Jatinangor dan Aureline Moeremans. (Damn, she’s so cute)

Ryan Reynolds

via Replygif

Seharusnya, bakal memerankan Soleh Solihun waktu muda, Kang Soleh harus menggunakan CGI bakal melakukan peremajaan wajah. Walaupun pemilihan Kang Soleh sebagai pemeran utama pernah dijelaskan dalam cerita, namun perawakan Kang Soleh yang tidak lagi seperti anak kuliahan membuat fokus penonton sedikit terpecah. I am sorry, Kang, but you jelly belly is too distracting. Apalagi pemeran utama (Kang Soleh –red) sering menggunakan baju ngepas. Tidaaaaaaak.

Hal yang menjadi penarik bakal film ini yaitu banyaknya referensi bagi anak tahun 90an yang diberikan. Apalagi pada awal film, referensi seperti Ali Topan Anak Jalanan, Slank serta Pure Saturday menjadi pengingat manis bagi generasi 90an. Walaupun referensi tersebut terhenti seusai setengah film ditayangkan, kehadiran “guest selain para komika di film beserta komedi yang ditampilkan cukup memberikan warna tersendiri.

Gading Marten

Gading Marten dalam Mau Jadi Apa via Konfrontasi

Banyak diisi oleh bintang-bintang Bandung, The Changcuters, Gading Marten (dengan menyebutkan Roy Marten), Budi Dalton, serta Ronald Suraprajda dan Tike Priatnakusumah, film ini kental dengan nuansa bandung. Ditambah dengan peran Boris Bokir yang aslinya keturunan Batak bakal menjadi Urang Sunda blasteran Padang.

Buat keseluruhan, film ini enak ditonton beserta teman-teman (menyaksikan Aurelie Moeremans) bakal mengisi waktu senggang dengan komedi yang diberikan. Buat skenario dan tema, kita sanggup memaklumi kepenulisan perdana Kang Soleh. Dalam hal menjadi sutradara, “Reuni Z” tampaknya sanggup menjadi pendobrak Kang Soleh sebagai sutradara tanpa bayang-bayang Monti Tiwa.


Sutradara: Monti Tiwa dan Soleh Solihun 

Genre: Komedi, Biografi

Top Cast: Soleh Solihun, Anggika Bolsterli, Awwe, Adjisdoaibu, 

Boris Bokir, Ricky Wattimena, dan Aurelie Moeremans,

Durasi: 103 menit

Rating

Kesimpulan

Komedi biografi Soleh Solihun yang memberikan throwback bakal generasi 90an. Lucu, menghibur dan penuh nostalgia.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *